Diaz Hendropriyono, Antara Komisaris Telkomsel dan MoU Proton

Anak ketiga mantan Kepala BIN Abdullah Makhmud Hendropriyono, Diaz Hendropriyono belakangan menjadi bahan perbincangan. Pertama saat ditunjuk menjadi komisaris Telkomsel dan kedua ketika perusahaan ayahnya menggandeng Proton Malaysia.
---
PADA Desember 2014, Diaz menempati kursi komisaris Telkomsel. Banyak kalangan yang meragukan kemampuan Diaz dalam menjalankan tugasnya di perusahaan seluler terbesar di tanah air itu.
Diaz merasa keraguan dari berbagai pihak itu sebagai hal wajar. Yang terpenting, dia bisa membuktikannya dengan kinerja maksimal. ''Kalau alasannya apa, mungkin pemegang saham yang bisa jawab. Yang pasti, awalnya saya dipanggil menteri BUMN untuk ngobrol secara umum tentang BUMN,'' ujarnya di Jakarta kemarin.
Sebelumnya, dia diminta mengirimkan CV. ''Lalu, ditawari di Telkomsel, ya saya terima. Masak saya meminta jabatan lain? Kan tidak etis,'' ucap peraih gelar MBA dan MA in Global Leadership dari Hawaii Pacific University itu.
Meski begitu, dia mengakui tidak bisa lepas dari reputasi ayahnya. ''Kan tidak mungkin saya bilang saya tidak ada kaitannya sama ayah saya. Yang pasti, antara saya dan ayah saya, dua individu yang berbeda,'' tegasnya.
Terkait dengan perannya sebagai seorang komisaris, Diaz mengatakan, Telkomsel tidak boleh merasa berada di zona nyaman, meski saat ini memimpin industri telekomunikasi. Sebab, anak perusahaan PT Telkom Tbk tersebut juga memiliki fundamental positif.
''Waktu pertama lihat isinya, saya lihat perusahaan sangat sehat. EBITDA (laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi) margin 56 persen, tinggi sekali. Laba bersih sekitar Rp 19 triliun dengan pendapatan Rp 66 triliun tahun lalu,'' jelasnya.
Terlebih rasio utang terhadap ekuitas (debt to equity ratio) hanya 4 persen. Padahal, kompetitor ada yang ratusan persen. ''Lalu, apa lagi yang mau diawasi? Tapi jangan lupa, jangan merasa berada di comfort zone,'' tegas pria kelahiran 25 September 1978 tersebut.
Di luar itu, Diaz yang hadir saat MoU Proton dengan PT Adiperkasa Citra Lestari (ACL) di Malaysia, Februari lalu, belum bisa bercerita banyak mengenai perkembangan rencana tersebut. ACL, perusahaan milik ayahnya yang berencana memproduksi mobil di Indonesia, masih melakukan studi kelayakan. ''Saya sih tidak terlibat secara langsung. Hanya bantu informal. Tapi jangan salah kaprah, itu bukan mobnas (mobil nasional) lho ya,'' ujarnya.
Kelanjutan MoU itu kini masih berada dalam studi kelayakan dengan jangka waktu empat bulan sejak penandatanganan. ''Akan seperti apa nanti? Yang jelas akan meningkatkan produksi mobil di Indonesia. Bakal jadi produsen mobil lokal dan itu bukan semata-mata Proton diganti kulit kacangnya, lalu ditulis merek lain,'' ungkapnya.
Komitmen Proton sejauh ini hanya untuk transfer teknologi. Proses studi kelayakan juga mencakup pencarian lahan untuk pabrik. Soal apa nama mereknya, dia mengelak. Begitu pula mengenai mobil jenis apa yang akan digarap nanti. (gen/c15/oki)
sumber


~ http://www.soalpajak.com ~

Share

& Comment

0 comments:

Post a Comment

No SPAM, SARA, Pornography, Gambling

 

Copyright © 2015 Soal Pajak™ is a registered trademark.

Designed by Templateism. Hosted on Blogger Platform.