Pajak Mewah Picu Penurunan Penjualan Rumah

Metrotvnews.com, Jakarta: Rencana pemberlakuan revisi pajak penjualan barang mewah (PPNBM) untuk hunian rumah dinilai berpotensi menurunkan penjualan hingga 30 persen sampai dengan 40 persen. Bahkan, kebijakan ini membuat ukuran rumah semakin mengecil.
"Pemberlakuan pajak barang mewah untuk rumah yang tadinya dikenakan di harga Rp10 miliar menjadi rumah seharga Rp2 miliar, berpotensi akan menurunkan penjualan, karena harga itu banyak diminati oleh masyarakat menengah dan itu pasar yang cukup gemuk," kata Kepala Penasihat Jones Lang LaSalle Vivin Harsanto, di Jakarta, Kamis (16/4/2015).
Selain berpotensi menurunkan penjualan, kebijakan itu mendorong pembangun hunian untuk membuat ukuran rumah yang lebih kecil agar harganya tidak sampai Rp2 miliar. Namun akibatnya, akan ada penurunan kualitas hidup masyarakat Indonesia, karena daya belinya menurun.
"Saya pikir tidak masalah kebijakan ini tetap berlaku, namun mungkin di angka Rp7 miliar, jangan sampai Rp2 miliar," jelas Vivin.
Menurut dia, takaran kemewahan di setiap daerah di Indonesia berbeda-beda,. Misalnya, untuk masyarakat Jakarta, rumah seharga Rp2 miliar bukan lagi hal yang mewah. Untuk itu, pemerintah selayaknya membuat peraturan berdasarkan wilayahnya. Tak dipungkiri memang sedikit rumit, tapi bila ingin digeneralkan maka acuannya adalah angka yang tertinggi bukan angka yang terendah.
Kemudian, mengenai peraturan Bank Indonesia (BI) yang mewajibkan penggunaan rupiah dalam setiap transaksi, Vivin bependapat untuk sektor properti yang mendapat pengaruh dari peraturan tersebut secara langsung adalah pemilik gedung. Namun, selama rupiah stabil, maka tidak akan berpengaruh bagi pemilik gedung
ABD
sumber


~ http://www.soalpajak.com ~

Share

& Comment

0 comments:

Post a Comment

No SPAM, SARA, Pornography, Gambling

 

Copyright © 2015 Soal Pajak™ is a registered trademark.

Designed by Templateism. Hosted on Blogger Platform.