Bersama Agregat, DJP Optimis Target Penerimaan Dapat Dicapai

“Maksimalkan penggunaan Agregat, Insya Allah, target penerimaan pajak akan tercapai,” demikian disampaikan Mutamam, Direktur Teknologi Informasi Perpajakan saat memberikan pemaparan pada Forum Nasional Pengawasan dan Konsultasi Tahun 2015, Medan, 28 Agustus 2015.

Agregat merupakan salah satu aplikasi yang dikembangkan sendiri oleh Direktorat Jenderal Pajak (DJP) guna pengawasan kepatuhan Wajib Pajak.

Melalui Agregat, berbagai data eksternal yang sudah dikumpulkan oleh DJP dari Institusi, Lembaga, Asosiasi dan Pihak Ketiga Lainnya (ILAP) disajikan kepada para pegawai di fungsi Pengawasan dan Konsultasi.

Agregat juga memastikan setiap potensi penerimaan pajak yang disajikan wajib ditindaklanjuti oleh para pegawai di fungsi Pengawasan dan Konsultasi. Jika tidak, sistem akan memberikan pelaporan kinerja negatif pegawai kepada pimpinan DJP, sehingga akan berdampak pada karir pegawai di fungsi Pengawasan dan Konsultasi.

Mutamam juga menambahkan bahwa Agregat telah terintegrasi untuk seluruh jenis pajak. “Jika Wajib Pajak sudah membayar PPh, namun PPNnya masih kosong, maka Agregat akan memberikan peringatan,” tuturnya.

Selain itu, data yang disajikan di Agregat juga dimanfaatkan oleh Pusat Analisa Perpajakan (Center for Tax Analysis, CTA) guna menentukan kebijakan perpajakan yang sesuai dengan kondisi makroekonomi Indonesia agar penerimaan pajak lebih optimal.

Mutamam juga menambahkan bahwa seluruh Kementerian/Lembaga di Indonesia saat ini diinstruksikan untuk mendukung pencapaian target penerimaan pajak. “Sesuai dengan Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 2015 Tentang Aksi Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi Tahun 2015, terdapat 5 Kementerian/Lembaga yang pelayanannya mensyaratkan kepatuhan pajak,” jelasnya.

Melalui Agregat, potensi pajak didefinisikan sebagai Y = C + (I + S), dengan Y sebagai income atau penghasilan, C sebagai cost atau biaya, I sebagai investment atau investasi dan S sebagai saving atau tabungan.

Berbagai data di Agregat mewakili potensi pajak di atas sebagai berikut:

  1. Data Penghasilan (Y) meliputi: Data Ekspor/Impor (Bea Cukai), Data Bukti Potong, Data Pembayaran Belanja Pemerintah (SP2D), Data Pembayaran Gaji Pegawai (Jamsostek), Data Transaksi Jual Beli Properti (Notaris/PPAT), dll
  2. Data Biaya (C) meliputi: Data Rekening Telepon (Telkom, Indosat), Data Kartu Kredit, Data Rekening Listrik (PLN), Data Rekening Air (PDAM), dll
  3. Data Investasi (I) meliputi: Data Saham (KSEI), Data Properti, PPAT, Data Kendaraan Bermotor, Data Pemegang Saham, dll
  4. Data Tabungan (S) meliputi: Data Debitur (SID), Data Hutang, dll

Di akhir pemaparannya, Mutamam menyampaikan bahwa Direktorat Teknologi Informasi Perpajakan senantian berusaha melakukan berbagai terobosan guna mengembangkan teknologi informasi untuk keperluan pengawasan Wajib Pajak.

Selanjutnya, melalui kerja cerdas melalui Agregat, Mutamam mengajak seluruh peserta untuk bersama-sama mencapai target penerimaan pajak.


Sumber: pajak.go.id

Share

& Comment

0 comments:

Post a Comment

No SPAM, SARA, Pornography, Gambling

 

Copyright © 2015 Soal Pajak™ is a registered trademark.

Designed by Templateism. Hosted on Blogger Platform.