Pemerintah Diminta tak Terburu-buru Naikkan Cukai Rokok

Metrotvnews.com, Jakarta: Anggota Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun menyebutkan setiap tahun cukai rokok selalu dinaikkan demi meningkatkan sumber penerimaan negara.

Namun demikian, pemerintah juga harus memperhatikan dampak kenaikan cukai rokok tersebut yakni adanya PHK massal. Sebelumnya, kelompok antitembakau mendesak pemerintah untuk menaikkan cukai rokok hingga 57 persen. Menurut dia, hal ini harus dilihat secara adil.

"Pemerintah harus memperhatikan dampak kenaikan cukai, seperti PHK massal, bahkan gulung tikarnya perusahaan rokok golongan kecil dan menengah," ujar dia dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Selasa (4/8/2015).

Dia membeberkan, pada 2014, banyak perusahaan rokok terpaksa mem-PHK buruhnya. Antara lain, perusahaan rokok Bentoel di Malang mem-PHK 1.000-an buruhnya, HM Sampoerna mem-PHK sekitar 4.900 buruh karena dua pabriknya di Lumajang dan Jember, Jawa Timur tutup. Serta Gudang Garam Kediri yang mem-PHK sekitar 2.000 buruhnya.

Selain itu, tambah Misbakhun, dampak kenaikan cukai rokok juga berdampak pada gulung tikarnya pabrik rokok. Pada 2009, jumlah pabrik rokok tercatat sekitar 4.900. Sementara, di 2012, jumlah pabrik rokok berkurang menjadi 1.000.

"Semakin tinggi nilai cukai, makin besar potensi kematian pabrik, dimulai dari golongan menengah ke bawah," jelasnya.

Oleh karena itu, dia mengimbau kepada pemerintah untuk memikirkan ulang kenaikan cukai rokok yang dibebankan pada industri kretek nasional. Aspek ekonomi-sosial, kata dia, harus dijadikan pertimbangan dasar oleh pemerintah dalam membuat kebijakan.

"Kita butuh penerimaan negara dari cukai, tapi ada aspek ekonomi yang lebih penting dari sekadar menaikkan pemerimaan negara dari cukai rokok," katanya.

Politisi Golkar ini mengatakan, ada banyak peluang lain untuk mendorong keragaman penerimaan negara dari sisi cukai, tidak semata mata mengandalkan dari cukai hasil tembakau. Dalam konteks ini, Kementerian Keuangan perlu diversifikasi kebijakan cukai yang untuk mendukung pengembangan kebijakan cukai lainnya.

Anggota Baleg DPR ini menambahkan, minuman berpemanis gula bisa menjadi alternatif pengenaan obyek cukai baru. Pasalnya, Jenis minuman ini sesungguhnya peredarannya harus dikendalikan, sehingga patut untuk dikenai cukai. Padahal kita tahu, minuman ini peredarannya massif, bahkan dikonsumsi oleh semua kelompok umur tanpa ada peringatan bahaya bagi pengonsumsinya.

"Pemerintah jangan lagi menaikkan cukai rokok terus menerus dikaitkan dengan isu kampanye untuk kesehatan," tuturnya.

Dia menjabarkan, tahun ini, pemerintah menargetkan penerimaan cukai rokok sebesar Rp139 triliun. Sementara, di 2014, realiasasi cukai tembakau mencapai Rp116 trilun. Artinya, tren penerimaan/pendapatan negara sektor cukai tembakau juga terus meningkat dari tiap tahun anggaran.
AHL

sumber



Share

& Comment

0 comments:

Post a Comment

No SPAM, SARA, Pornography, Gambling

 

Copyright © 2015 Soal Pajak™ is a registered trademark.

Designed by Templateism. Hosted on Blogger Platform.