Penyelundupan Cangkang Kerang Senilai Rp 20,4 M di Gagalkan Bea Cukai Tanjung Priok

indopos.co.id – Petugas Bea dan Cukai Tanjung Priok, menggagalkan upaya penyelundupan 1 kontainer cangkang kerang. Adapun cangkang kerang yang hendak diselundupkan pelaku di dalam satu kontainer ukuran 40 feet, merupakan satwa yang dilindungi. Yakni jenis cangkang kerang kepala kambing (Cassis Cornuta). Rencananya cangkang kerang tersebut hendak diselundupkan ke Tiongkok. Ditaksir, nilai barang yang hendak diekspor secara ilegal tersebut sebesar Rp 20.442.500.000. Atau Rp 20,4 Milyar lebih. Sedangkan potensi kerugian negara, yakni kerugiaan immateriil adanya potensi kerusakan sumber daya alam yang tidak ternilai harganya.

Selain berhasil menggagalkan penyelundupan satwa langka, petugas Bea Cukai juga menggagalkan penyelundupan kayu, rotan ilegal dan bijih merkuri, hasil penambangan ilegal.

Adapun upaya penyelundupan kayu dan rotan yang berhasil digagalkan sebanyak 24 kontainer. Dengan rincian, rotan asalah berbagai macam ukuran sebanyak 11 kontainer ukuran 40 feet. Rotan setengah jadi sebanyak 1 kontainer ukuran 40 feet. Kayu gelondongan dalam berbagai ukuran sebanyak 9 kontainer ukuran 20 feet. Dan 3 kontainer ukuran 40 feet. Kayu dan rotan itu ditaksir senilai Rp 4.226.250.000. Rencananya kayu dan rotan ilegal itu akan diselundupkan ke Hongkong, Tiongkok, Sri Langka, Amerika Serikat, Jerman dan Taiwan.

Sedangkan, penyelundupan bijih merkuri (cinnabar) yang berhasil digagalkan, sebanyak 2 kontainer ukuran 20 feet. Hasil tambang ilegal yang hendak diselundupkan ke Hongkong, ditaksir seharga Rp 8.320.000.000.

Sementara itu, Menkeu Bambang Brodjonegoro, Rabu (12/8) datang ke Pelabuhan Tanjung Priok, melihat tegahan yang dilakukan Bea dan Cukai Tanjung Priok. Dalam kesempatan tersebut, Bambang mengatakan jajarannya, dalam hal ini Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Kementrian Keuangan RI berhasil melakukan penegahan terkait lingkungan hidup.

"Yang pertama soal satwa langka. Cangkang Kerang kepala kambing. Dengan negara tujuan ekspor ilegal ke Tiongkok. Nilai cangkang kerang itu, Rp 20 miliar lebih. Kerugiannya juga potensi alam sebab ini kerang langka," ujar Bambang, Rabu.

"Selain itu, penegahan Ilegal logging untuk kayu dan rotan. Ada 11 kontainer ukuran 40 feet. Modus ekspor diberitahukan secara tidak benar. Serta penyelundupan bijih merkuri, hasil penambangan ilegal," imbuhnya.

Sementara itu, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya, mengatakan, pihaknya mengapresiasi Bea Cukai terkait pencegahan tersebut.

Menurutnya upaya konservasi alam harus terus dilakukan. Pihaknya sendiri memiliki 552 unit kawasan konservasi. Antara lain satwa langka. "Ada 25 jenis spesies terancam punah. Dengan adanya upaya konservasi, harus meningkat 10 persen. Jadi kalau ada satwa yang ditangkap, itu akan mengganggu program kita," ujar Siti, Rabu (12/8).

Lebih lanjut ia mengatakan, pihaknya mempunyai 188 total kasus ilegal tumbuhan dan satwa langka. Dari jumlah tersebut, 78 persen baru bisa selesai.

"Jadi secara umum, satwa ini sangat penting. Kejahatan tumbuhan dan satwa langka itu kedua setelah narkoba. Kerugiannya ditaksir mencapai 7 miliar dollar pertahunnya. Atau sekitar Rp 100 trilyun," ujar Siti.

Sementara itu, Dirjen Bea dan Cukai Heru Pambudi didampingi Kepala Bea dan Cukai Tanjung Priok Fadjar Donny mengatakan, pihaknya tengah memproses kasus penyelundupan tersebut. Untuk ilegal logging sedang di proses.

"Sedangkan untuk barang bukti cangkang kerang kepala kambing, nanti akan kami serahkan kepada Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam hal ini Ditjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Cq Balai Konservasi Sumber Daya Alam DKI Jakarta," ujar Heru.

Lebih lanjut ia mengatakan, modus yang digunakan pelaku adalah menggunakan nama eksportir lain. Serta dokumen pemberitahuan ekspor barang diberitahukan secara tidak benar. (dai)

sumber



Share

& Comment

0 comments:

Post a Comment

No SPAM, SARA, Pornography, Gambling

 

Copyright © 2015 Soal Pajak™ is a registered trademark.

Designed by Templateism. Hosted on Blogger Platform.