Persempit Masalah Perlebar Peluang

Oleh Hendar Iskandar, Pegawai Direktorat Jenderal Pajak

Dalam suatu pertemuan yang membahas tentang evaluasi kinerja, hal yang sering disampaikan adalah daftar permasalahan yang menjadi batu sandungan pencapaian kinerja. Daftar tersebut seakan menjadi jawaban paling pas sekaligus menjadi kambing hitam dan seolah menjadi faktor 99% yang menentukan kinerja seseorang dan kinerja organisasi.

Sisi lain yang dapat kita lihat pada daftar permasalahan tersebut umumny adalah masalah di luar dirinya atau di luar organisasi. Konteks kinerja perseorangan akan berhubungan dengan masalah di luar orang yang bersangkutan, sedangkan kinerja organisasi berhubungan dengan masalah di luar organisasinya.

Itulah daftar permasalahan yang rutin dan telah menjadi pemafhuman bersama tidak tercapainya kinerja yang diharapkan. Sebagai sebuah alat analisa, identifikasi awal dapat dilakukan untuk memetakan strategi dengan melihat sisi kekurangan dan kelebihan internal serta memotret tantangan dan peluang yang ada di lingkungan eksternal dengan menggunakan analisa SWOT.

Sebuah strategi dibangun dari visi misi dan tujuan yang ingin diraih. Dalam alat sederhana ini tidak ada istilah masalah tetapi yang ada kekuatan dan kelemahan mengatasi tantangan dan memanfaatkan peluang.

Direktorat Jenderal Pajak yang mempunyai tugas utama menghimpun penerimaan Negara dengan tantangan target penerimaan sebesar 1.294 Trilyun untuk tahun 2015. Tugas tersebut memang boleh dianggap tugas maha berat ditengah isu-isu perlambatan pertumbuhan sektor ekonomi serta serapan anggaran yang masih sangat rendah sampai dengan semester pertama.

Isu tersebut sudah bukan rahasia lagi karena gejalanya hampir sama untuk seluruh wilayah Indonesia dan diakui sendiri oleh pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan. Meminjam bahasa analisa SWOT, fokus awal mencapai tujuan dapat dipetakan dalam bagaimana kekuatan (strengths) mampu mengambil keuntungan (advantage) dari peluang (opportunities) yang ada, bagaimana cara mengatasi kelemahan (weaknesses) yang mencegah keuntungan (advantage) dari peluang (opportunities) yang ada, selanjutnya bagaimana kekuatan (strengths) mampu menghadapi ancaman (threats) yang ada, dan terakhir adalah bagaimana cara mengatasi kelemahan (weaknesses) yang mampu membuat ancaman (threats) menjadi nyata atau menciptakan sebuah ancaman baru.

Permasalahan utama yang sering mengemuka dalam berbagai rapat dan diskusi kalau mau kita “simpulkan” mesti berbicara konteks kelemahan intern yakni kemampuan pegawai dalam hal kompetensi baik kompetensi softskill maupun hardskill.

Pemahaman yang harus komprehensif dalam berbagai bidang disiplin ilmu baik ilmu perpajakan maupun ilmu-ilmu teknis lainnya menyebabkan pegawai mengalami kebingungan tentang apa yang harus dipelajari dan difahami dalam mendukung bidang pekerjaannya. Belum adanya peta kompetensi pegawai menyebabkan organisasi berjalan tanpa adanya cahaya penuntun.

Ibarat orang yang masuk gua tanpa pemahaman peta dan tanpa alat senter maka bergerak bisa mendekat bahkan bisa menjauhi dari tujuan lorong jalan yang ingin dilalui. Dengan demikian kuncinya bukan pada bergerak atau tidak bergerak ,tetapi bagaimana gerakan yang di buat. Gerakan ke arah yang salah menyebabkan dua kerugian yakni terkurasnya tenaga dan hasil yang tidak didapatkan.

Faktor-faktor di luar organisasi sebenarnya tidak menjadi bagian dari masalah namun ancaman. Dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) masalah adalah sesuatu yang harus diselesaikan, sedangkan ancaman dapat diartikan sebagai sesuatu yang akan meyusahkan,merugikan,menyulitkan.

Dengan demikian kita sudah mengeluarkan satu dua daftar masalah antara lain perlambatan ekonomi dan penyerapan anggaran dengan menggesernya menjadi ancaman. Respon yang diharapkan kita akan semakin bekerja giat dan merasa tertantang untuk meningkatkan kemampuan dan kekuatan yang dimiliki dalam mengatasi ancaman yang ada.

Disinilah organisasi bisa banyak berperan. Sumber daya manusia yang sudah tersaring baik di DJP ibarat tunas pohon yang harus segera disiram agar dia tumbuh subur dan tidak layu bahkan mungkin layu sebelum waktunya.

Kekuatan pegawai yang bertumpu pada pegawai yang secara akademik mumpuni, dan secara praktisi sudah lama malang melintang sebagai praktisi perpajakan harus dimanfaatkan dengan melakukan inventarisasi pegawai-pegawai yang memiliki kemampuan terutama kemampuan yang sifatnya khusus untuk segera di dokumentasikan ilmunya untuk selanjutnya menjadi bahan untuk mencetak kader-kader terbaik berikutnya.

Dengan model transfer pengetahuan, kemampuan pegawai dapat terpelihara dan mengurangi gap kemampuan dari masing-masing pegawai. Penerimaan Pajak menjadi tujuan dan indikator kinerja utama Direktorat Jenderal Pajak.

Pajak merupakan peralihan dari harta kekayaan individu kepada Negara sebagai modal untuk melaksanakan tujuan bersama sebuah negara. Meskipun Subyek Pajak dibedakan menjadi subjek Orang Pribadi atau badan baik subyek pajak dalam negeri ataupun subyek pajak lua negeri, pada hakekatnya pembayar pajak adalah orang.

Badan baik yang berbadan hukum atau tidak hanyalah sarana orang berusaha baik sebagai usaha aktif maupun melalui usaha pasif yang hanya mengandalkan sebagai pemilik modal semata atau bentuk investasi lainnya.

Faktor eksternal yang dapat mempengaruhi kinerja organisasi dapat dipetakan dalam peluang dan ancaman yang mesti diantisipasi. Peluang dan ancaman yang berasal dari Faktor Eksternal antara lain dari Wajib Pajak sebagai pembayar pajak maupun stakeholder lainnya baik institusi, lembaga,asosiasi, dan pihak lainnya yang mempengaruhi pencapaian kinerja organisasi.

Direktorat Jenderal Pajak memiliki peluang untuk menambah pundi-pundi penerimaan dengan menjangkau pembayar pajak yang selama ini tersembunyi atau disembunyikan bahkan yang tersembunyi dibalik kerahasian pihak-pihak penyimpan harta kekayaan dan catatannya.

Tax ratio rendah bisa menjadi peluang untuk terus ditingkatkan karena semestinya hal tersebut bisa diraih mesti tantangan senantiasa menyertainya. Disinilah sudah menjadi suatu keniscayaan bahwa peluang senantiasa seiring sejalan dengan tantangan.

Pajak dikenakan atas aliran uang, aliran barang, aliran jasa, baik yang habis dikonsumsi maupun yang berujung pada investasi. Hakekatnya semua bicara uang, karena aliran apapun sebenarnya aliran uang yang sebenarnya dipajaki.

Alirannya bisa dipahami dari penghasilan, kemampuan untuk mengkonsumsi atau investasi baik dalam bentuk mata uang, surat berharga ataupun barang berwujud yang bergerak seperti kendaraan, barang tidak bergerak seperti bangunan maupun barang tidak berwujud seperti kepemilikan paten, hak cipta dan sebagainya.

Direktorat Jenderal Pajak seharusnya dapat memetakan aliran uang masuk baik yang melalui sektor swasta langsung maupun yang melalui anggaran baik di pemerintah pusat mapun daerah. Selanjutnya kemana uang itu dibelanjakan, apakah sekedar di konsumsi atau digunakan untuk investasi.

Uang itu pada akhirnya akan dinikmati orang pribadi baik langsung maupun tidak langsung melalui badan usahanya. Model pengenaan Pajak Indonesia bisa dikenakan atas subyek badan maupun orang pribadi, maka pajak dapat dikenakan atas aliran ke badan usahanya juga orang pribadi selaku pemiliknya, kecuali badan yang berbentuk kumpulan orang misalnya CV dimana penerimaan prive bagi pemilik bukan sebagai penghasilan.

Inside Tax Edisi 30 memaparkan hasil penelitian yang dilaporkan dalam Asia-Pacific Report 2014 menunjukkan peningkatan jumlah populasi dan kekayaan orang pribadi kaya (HWI) dari berbagai negara di Asia, salah satunya Indonesia.

Dalam laporan ini digambarkan bahwa populasi dan kekayaan HWI di Indonesia terus mengalami peningkatan setiap tahun mulai dari tahun 2008 hingga 2013. Laporan tersebut juga mencantumkan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki pertumbuhan populasi HWI di atas rata-rata selain Taiwan, Thailand, Tiongkok, dan Hongkong.

Hal ini menjadi peluang organisasi untuk meningkatkan peran serta mereka dalam membayar pajak. Tantangannya bagaimana kekayaan mereka dapat dipetakan baik sumber maupun pengeluarannya beserta sumber-sumber pundi-pundi kekayaannya bahkan sampai bisa melintasi batas Negara.

Sehubungan dengan tahun pembinaan Wajib Pajak 2015 semestinya merekalah sasaran kampanye tahun pembinaan yang utama yang dapat diharapkan membayar pajak baik di sisi individunya maupun disisi badan usahanya. Carilah terus peluang yang ada jangan hanya berhenti pada masalah-masalah yang ada.

*) Tulisan ini merupakan pendapat pribadi penulis dan bukan cerminan sikap instansi dimana penulis bekerja


Sumber: pajak.go.id

Share

& Comment

0 comments:

Post a Comment

No SPAM, SARA, Pornography, Gambling

 

Copyright © 2015 Soal Pajak™ is a registered trademark.

Designed by Templateism. Hosted on Blogger Platform.