Teknologi Jadi Kendala Industri Rokok Kretek Rumahan

JAKARTA - Target penerimaan cukai yang dinaikkan oleh pemerintah tentu mendapat penolakan dari pelaku industri rokok nasional, khususnya industri kretek berskala rumahan atau sigaret kretek tangan (SKT). Pasalnya para pengusaha level industri kecil menengah itulah yang akan memikul beban paling berat.

Sekertaris Jenderal Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (Gappri), Hasan Aomi Aziz, menjelaskan jika produsen SKM ingin naik kelas memproduksi rokok kretek dengan filter atau sigaret kretek mesin (SKM) dibutuhkan dana ekstra untuk membeli mesin.

"Itu butuh dana yang sangat besar, sementara mereka industri rumahan," tutur Hasan kepada Okezone, Jakarta, Jumat (4/9/2015).

Menurutnya, dengan kemampuan yang sangat terbatas untuk naik kelas ditambah beban kenaikan cukai rokok, maka harapan pelaku industri kretek rumahan yang ingin mengembangkan bisnisnya semakin sirna. Pasalnya, dengan kenaikan cukai mereka harus menaikan harga jual. Artinya, daya saing rokok kretek rumahan akan semakin kecil.

"Belum lagi jika ingin investasi besar di mesin, pasti modalnya ditaruh pada harga jual. Otomatis harganya semakin tinggi ditambah dampak kenaikan cukai. Makanya banyak pengusaha yang menahan harga," pungkasnya.

Sekedar informasi, dalam draft RAPBN 2016, pemerintah telah memutuskan untuk menaikan target pendapatan cukai menjadi Rp155 triliun. Nilai tersebut naik 23 persen dari tahun sebelumnya sebesar Rp138,9 triliun.

sumber



Share

& Comment

0 comments:

Post a Comment

No SPAM, SARA, Pornography, Gambling

 

Copyright © 2015 Soal Pajak™ is a registered trademark.

Designed by Templateism. Hosted on Blogger Platform.